Saturday October 25, 2014

Tanya Jawab Tentang Bill of Lading, Consignee dan Endorsement

yanti November 26, 2008 1:14 pm
Pak, mau tanya nih. Saya bekerja di bagian pengeluaran D/O import. Kalau dalam HBL , cnee nya adalah TO ORDER, notify : PT AX. bolehkah saya merelase D/O ke PT AX tanpa endorse bank di belakangnya? Apakah artinya/ perbedaannya TO ORDER dan TO ORDER OF BANK XXX dalam colom cnee dan apakah syarat yang harus dipenuhi ketika menyerahkan D/O? Apakah harus ada endorse bank di belakangnya?

Permasalahan Bill of Lading (B/L), Consignee dan Endorsement serta Notify Party memang memiliki treatment tersendiri, yang seringkali banyak terjadi kerancuan dalam intepretasi masing-masing pihak yang bersentuhan, seperti Shipping agent, Importir, Bank dan bahkan pihak Bea dan Cukai.

Bill of Lading (B/L) memang merupakan dokumen yang sangat special, dibanding dokumen transport lainnya seperti Airway Bill, Forwader Cargo Receipt Dll, B/L memiliki 3 fungsi utama yaitu :
1. Sebagai Bukti Tanda Terima Barang (Goods/Cargo Receipt),
2. Sebagai Bukti Pengiriman Barang (Goods/Cargo Carriage), dan yang terpenting adalah
3 Sebagai Bukti Kepemilikan Barang (Title of Goods/Cargo)

BL sebagai bukti kepemilikan barang diaplikasikan terhadap penunjukan nama Consignee pada BL, siapa Consignee-nya dialah pemilik barang tersebut, sehingga untuk peralihan kepemilikan barang dibutuhkan persetujuan dari Consignee-nya dengan cara mengendorse bagian belakang BL

Oleh karena sangat memungkinkan terjadinya pemindahan kepemilikan, bahkan bisa berkali-kali, BL menjadi suatu dokumen yang dapat diperdagangkan atau NEGOTIABLE Transport Documents.

Dalam Consignee ada juga terminology TO ORDER atau TO ORDER OF XXX, yang tujuannya untuk membedakan Fungsi kepemilikan barang tersebut. Hal ini tidak ada hubungannya dengan Notify Party atau pihak yang diberitahu tentang kedatangan dan kondisi barang. Notify party tidak memiliki hak akan kepemilikan barang.

Pada TO ORDER, kepemilikan barang menjadi bebas, barang dimiliki oleh siapa saja yang membawa BL tersebut karena tidak ada pencantuman nama Consignee sebagai pemilik barang pada BL tersebut, shingga BL bentuk ini merupakan BL yang dapat dipindahtangankan tidak dengan endorsement/tidak dibutuhkan endorsement. BL ini Lebih simple tapi jauh lebih beresiko.

Pada TO ORDER OF XXX, BL berfungsi sebagai Negotiable Documents, yaitu dokumen yang bisa dipindahtangankan atau dialihkan kepemilikannya kepada pihak lain dengan persetujuan pihak Consignee yang tercantum di BL, dengan cara endorsement oleh XXX ditujukan kepada pemilik baru.

Biasanya pada transaksi impor yang menggunakan LC, Issuing Bank selalu meminta Consignee-nya To the order of Issuing Bank, untuk control kepemilikan barang, yang nantinya pada saat importer hendak mengambil barang, importer harus meminta endorsement Issuing Bank untuk memperoleh DO pengambilan barang.

Shipping Agent harus memastikan kebenaran nama Consignee, Importir, dan Endorsement untuk menghindari Fraud atau pemalsuan dokumen, karena resikonya cukup besar. Sekarang yang masih menjadi pertanyaan adalah :
Apakah selama ini Shipping agent memiliki contoh tanda tangan / Speciment pejabat Bank yang berwenang melakukan Endorsement ? juga yang menandatangani Bank Guarantee ?

Sejauh pengetahuan saya BELUM.

Mudah2an bermanfaat.

Join the forum discussion on this post
Filed in: Customs & Govt Agent, General Business, Import & Procurement, Info Teknis, Transport & Logistic

51 Responses to “Tanya Jawab Tentang Bill of Lading, Consignee dan Endorsement”

  1. YANTI
    November 28, 2008 at 3:50 am #

    Pak, terima kasih sekali atas jawabannya yang sangat cepat. Tetapi masih ada satu pertanyaan lagi mengenai impor sbb :

    Apabila Original HBL ada 3, yang 2 lembar original dikirim kurir ke cnee, yang 1 lembar dalam proses bank.

    Suatu hari cnee datang ke kantor dengan membawa HBL dari kurir yang cnee-nya tertulis : TO ORDER saja dan ada endorse (dimana yang mengendorse adalah shipper sendiri)dibelakang HBL : TO ORDER OF XXX BANK dan tanda tangan shipper, apakah saya boleh merelase D/O dengan kondisi HBL tersebut??

    Atau saya harus menunggu HBL ke-3 yang diendorse bank?

    Lalu apa gunanya HBL 1 dan 2 yang dikirim kurir?

    Seandainya saya diperbolehkan merelease DO dengan HBL dari kurir (tanpa endorse dan tanda tangan bank )padahal cnee belum membayar barang dalam container tersebut, apakah itu resiko shipper atau bagaimana pak? Mohon penjelasannya, terima kasih

  2. November 28, 2008 at 8:01 am #

    terima kasih Ibu Yanti atas respon-nya,

    Kasusnya agak di luar kebiasaan sedikit,
    Biasanya kalau BL consignee-nya to the order, consignor/shipper hanya melakukan blank endorsement saja, hanya stempel dan tanda-tangan, dan tidak perlu ada endorsement yang menunjuk suatu pihak tertentu. dengan demikian kepemilikan tetap KEPADA SIAPAPUN yang MEMBAWA/MENYERAHKAN BL tersebut.

    Pada kasus ibu, endorsement yang dilakukan oleh shipper menunjuk ke Bank, sehingga kepemilikan beralih ke “to the order of bank” dengan demikian ibu memang harus melihat/mempersyaratkan BL tersebut diendorse lagi oleh bank, baru ibu bisa release DO.

    Sebetulnya pada kasus di atas shipper bisa membuat BL dengan consignee to the order of Bank pada kolom consignee-nya daripada membuat BL dengan consignee to the order dan mengendorse to the order of bank.

    Gunanya BL yang dikirim ke kurir langsung ke importir adalah apabila consignee-nya Bank (dan harus mempersyaratkan endorsement Bank), si importir bisa mengajukan BL yang diterimanya apabila sampai lebih dulu daripada yang dikirim ke bank (untuk mempercepat waktu) karena jika menunggu yang melalui bank biasanya agak lama karena harus melalui proses Checking/pemeriksaan dokumen jika pakai LC.

    Pembayaran terhadap cargo adalah di luar tanggung jawab carrier/shipping. Jika shipper sudah menentukan bahwa consignee-nya to the order saja atau to the order of siapapun, maka selama pihak shipping melakukan release DO sesuai kondisi consignee pada BL-nya, Shipping sudah melakukan tugas dengan benar dan tanggung jawab di luar itu menjadi beban shipper atau consignee.

    Mudah2an Bermanfaat.

  3. Carrie
    December 10, 2008 at 5:59 pm #

    Mengenai Consignee diatas, bagaimana jika b/l tertera consignee PT A, tapi oleh shipping agent di daftar ke bea cukai dgn nama PT B?

  4. December 11, 2008 at 1:42 am #

    Kalau Consignee yang tertera di B/L PT. A, sementara oleh shipping di daftar Manifestnya tertera PT. B, maka harus dilakukan redress, oleh shipping agent ke bea cukai. jadi B/L dengan Manifest harus sama. Ingat, yang melakukan redress adalah Shipping agent, bukan Importir atau kuasanya seperti yang selama ini berjalan, dan biayanya hanya Rp.120000-140000 saja untuk PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak), tidak ada biaya lainnya.

    Semoga Bermanfaat,

    Rgds

  5. Carrie
    December 11, 2008 at 2:42 pm #

    Terima kasih banyak atas jawabannya, sangat membantu. Karena kasus sedang berjalan (perbedaan nama consignee), saya/kami ingin bertanya lagi, atas kejadian itu, akan muncul biaya2 yang membengkak, seperti demorage, sewa gudang yg tinggi, semua menjadi kewajiban siapa? dimana shipping agent sudah mengakui kesalahannya di depan PT A, PT B dan Bea Cukai (memenuhi panggilan interview Bea cukai), PT A (selaku consignee di B/L) harus bagaimana terhadap Shipping Agent tersebut?

  6. December 12, 2008 at 2:04 am #

    Kesalahan Consignee pada manifest, biasanya bisa terjadi karena kesalah Shipping Instruction yang dibuat Shipper atau kesalahan dari shipping agent sendiri (kesalahan ini lebih sering karena adanya pembuatan House BL dari forwarder yang bukan shipping agent).
    Jika menurut Ibu, Shipping Agent sudah mengakui kesalahannya, maka merekalah yang seharusnya bertanggung jawab, hanya saja sejauh mana mereka mau mengcover biaya2 yang membengkak tersebut.
    Kalau dari sisi biaya Demurrage/Detention mereka seharusnya bisa banyak membantu, karena biaya tersebut sepenuhnya berada dalam kuasa mereka. sedangkan untuk biaya storage/penumpukkan yang notabene adalah biaya dari perusahaan lain, maka harus ada kebijaksanaan dari pihak shipping agent sebagai penanggung jawab.

    Asalkan ibu bisa memastikan bahwa keterlambatan pengeluaran barang tersebut bukan karena kesalahan pihak ibu (tidak ada andil kesalahannya sekecil apapun-karena ini bisa dijadikan bahan keberatan pihak shipping agent) ibu berhak untuk meminta pertanggung jawaban dari shipping agent.

    Mudah2an bermanfaat

    Rgds,

  7. ERICK
    December 18, 2008 at 8:22 am #

    Pak Rahman, apabila terjadi penulis di BL, consignee adalah PT. A dan NOTIFY party adalah PT. B (kedua-duanya tanpa ada embel-embel TO ORDER).

    apakah bisa secara dokumentasi pabeannya, khususnya di sini pembuatan PIB atau BC 2.3., dimana PT. B adalah sebagai pemberitahu dan Penerima Barang.

    PT. A berasumsi bahwa ini bisa, sama halnya apabila CONSIGNEE adalah issuing BANK untuk LC. Sedangkan di sini PT. A hanya bertindak sebagai SALES AGENT dari SHIPPER. Jadi PT. A tidak mau bertindak sebagai pemilik barang, tapi semua dokumentasi importasi harus atas nama PT. B (notabene hanya sebagai NOTIFY PARTY).

    Pada packing list dan Invoice, juga tertera bahwa PT. B sebagai notify party.

    Bagaimana menurut pak rahman, apakah bisa jika PT B langsung di anggap sebagai importir atua pemilik barang hanya dengan PT. A melakukan endorsment

    Terima kasih

  8. December 18, 2008 at 8:39 am #

    Terima kasih atas atensinya mas/pak ERICK, Apabila terjadi penulis di BL, consignee adalah PT. A dan NOTIFY party adalah PT. B (kedua-duanya tanpa ada embel-embel TO ORDER).
    BL tersebut adalah Staight BL dan tidak dapat dipindahtangankan dengan endorsement.
    PT. A, mutlak sebagai pemilik Barang, dan PT. B hanya sebagai pihak yang diberitahu tentang posisi barang tersebut (as Notify Party) dan tidak ada hubungannya dengan kepemilikan barang.

    Secara dokumentasi pabeannya, khususnya di sini pembuatan PIB atau BC 2.3., pemberitahunya adalah PT. A, sebagai pemilik barang bukan PT. B. (walaupun nantinya kepemilikan barang tersebut diserahkan ke PT. B)

    Tidak sama halnya apabila CONSIGNEE adalah issuing BANK untuk LC (Consignee di sini pasti to the order of issuing bank, bukan consigne issuing bank saja).

    PT. A hanya bertindak sebagai SALES AGENT dari SHIPPER dan tidak mau bertindak sebagai pemilik barang, seharusnya tidak dicantumkan namanya sebagai consignee di B/L apalagi di dokumen lainnya.

    Jika semua dokumentasi importasi atas nama PT. B hanya sebagai NOTIFY PARTY. Pada packing list dan Invoice, juga tertera bahwa PT. B sebagai notify party, sepertinya PT. A salah mengerti dan tertukar pengertiannya antara Consignee dan Notify Party.

    PT B tidak bisa langsung dianggap sebagai importir atau pemilik barang karena endorsment PT. A tidak diakui dalam term Consignee seperti itu. perpindahan kepemilikan barang impor itu banyak kaitannya dengan pihak2 terkait, seperti perlakukan pajaknya, Treatment di Shipping Agent maupun Bea Cukai.

    Bapak sepertinya harus redress untuk bisa mengeluarkan barang (itupun harus ada kordinasi dengan shipper dan didukung dengan dokumen lainnya).

    Mudah2an membantu,

    Terima kasih

  9. ERICK
    December 18, 2008 at 8:42 am #

    pak rahman, terima kasih sekali penjelasannya. Apakah ada peraturan ataupun regulasi yang bisa saya jadikan acuan untuk menjelaskan hal ini , khususnya pada PT. A ? karena dalam peraturan pabean yang ada saya tidak menemukannya.

  10. anshari donna
    December 22, 2008 at 7:55 am #

    Wah, berarti saya salah selama ini? saya bisa lakukan pemindahan B/L dengan endorsement, dimana penerima adalah perusahaan saya dan saya pindahkan ke perusahaan lain. Tapi kenapa tidak masalah ya pak ?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.