Sunday October 26, 2014

menyiasati pengeluaran barang tanpa original B/L

Dalam salah satu training saya, pernah salah satu peserta menceritakan bahwa perusahaannya selaku importir Produk Baja dapat mengeluarkan barang dari pelabuhan dengan lebih cepat tanpa harus menyerahkan original BL (yang dikirim ke Bank karena menggunakan LC) dan tanpa menggunakan Shipping Guarantee, juga tidak berdasarkan surrendered BL atau telex release, tetapi dengan membuat kesepakatan/Letter of Intent (LOI) antara Importir, eksportir/shipper dan Shipping Company/Agent.

Semula dia menganggap proses tersebut wajar dan sah-sah saja dilakukan karena dalam proses tersebut aman-aman saja tidak merugikan pihak manapun. Setelah saya tanya apakah consignee-nya yang tercantum dalam BL adalah Issuing bank? Dia jawab iya dan dia mengkonfirmasi bahwa kesepakatan tersebut tidak melibatkan bank sama sekali.

Dalam mekanisme impor, kita mengenal proses penentuan perpindahan kepemilikan barang, yang awalnya dimiliki oleh shipper (exportir atau pihak lain) kemudian diserahkan melalui pihak pengirim Carrier (shipping company/agent) untuk dikirim ke penerima/pemilik barang/consignee (importir/pembeli atau Bank- jika menggunakan Letter of Credit-).

Bill of Lading (B/L) sebagai dokumen pengangkutan memiliki 3 fungsi sekaligus; sebagai tanda terima barang, sebagai bukti pengangkutan/pengiriman barang dan sebagai bukti kepemilikan barang. Dalam menentukan kepemilikan barang, BL mencantumkan pemilik barang tersebut sebagai consignee, dan dalam peraturannya hanya Consignee-lah yang berhak mengambil barang tersebut (kecuali consignee hanya to the order atau kecuali telah dipindahkan kepemilikannya dengan cara endorsement) dengan menyerahkan Original BL untuk ditukarkan dengan Delivery Order sebagai sarana pengambilan atau penyerahan barang dari carrier kepada consignee/pemilik barang.

Dalam cerita di atas, maka pemilik barang sesungguhnya adalah Issuing Bank (guna memproteksi penguasaan barang sebelum importir membayar kewajibannya, karena issuing bank-lah yang menjamin dan akan membayar barang tersebut sebagai penerbit LC) baru setelah importir membayar maka kepemilikan tersebut dipindahtangankan ke importir dengan cara mengendorse dan menyerahkan original BL ke Importir.

Jadi jika Importir melakukan kesepakatan dengan shipper dan shipping company, sepertinya tidak tepat, karena importir dalam kasus ini bukan pemilik barang melainkan bank. Karenanya Pihak bank-lah yang sangat dirugikan dalam kesepakatan ini, sebagai pemilik barang sebagaimana tertera sebagai consignee di BL.

Shipping company/agent seharusnya mengerti dan konsekwen bahwa pihaknya hanya akan berurusan dengan shipper dalam hal pengiriman barang dan hanya dengan consignee sebagai pemilik barang yang dibuktikan dengan penyerahan original BL.

Yang mengherankan Praktek seperti ini sudah lama terjadi sampai sekarang dan sudah banyak yang melakukannya. Bagaimana ini bisa terjadi ? Bagaimana jika importir yang sudah mengambil barang tidak melakukan pembayaran LC ke Bank? Bagaimana jika bank, yang nyata-nyata disebutkan dalam BL sebagai consignee/pemilik barang, ingin mengambil barang tersebut dengan menyerahka Original BL sesuai aturannya?

Sekali lagi, pentingnya pemahaman secara menyeluruh akan mekanisme transaksi ekspor impor memang sangat diperlukan untuk menghindari kesalahmengertian yang mengakibatkan kekeliruan penerapan yang dapat mengakibatkan kerugian-kerugian dan resiko-resiko lain yang dapat terjadi.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Join the forum discussion on this post
Filed in: Info Teknis, Opini, Trade Finance, Transport & Logistic

6 Responses to “menyiasati pengeluaran barang tanpa original B/L”

  1. Deka
    October 20, 2008 at 4:52 am #

    Hal tersebut sering terjadi jika agent dari shipping company tidak begitu bonafide atau memahami esensi consignee / pemilik barang, biasanya mungkin karena memakai house B/L jadi agen dari pelayaran yang dipakai melalui forwarder & mungkin forwarder tersebut tidak mengetahui atau mungkin “nakal”.
    Karena salah satu fungsi B/L adalah sebagai bukti kepemilikan barang yang ada dalam keterangan di B/L tersebut. Jadi bila L/C di consign ke bank maka pemilik barang tersebut adalah si Issuing bank samapai pihak importer/consignee melakukan pembayaran ke issuing bank baru B/L tersebut diendorsed ke pihak Importer/Buyer.

  2. October 20, 2008 at 5:08 am #

    Satu hal yang pasti untuk para exim bankers, tidak selamanya sistem dan aturan yang ada dijalankan dengan benar oleh pihak-pihak terkait , baik itu disengaja atau akibat ketidakmengertian, tetap dari sisi Bank sebagai pihak yang paling dirugikan dalam hal ini seharusnya lebih concern dan luas kontrolnya.
    Sudah saatnya Exim bankers lebih memperluas wawasan pengetahuan ke bidang-bidang exim lainnya, seperti shipping, kepabeanan praktek-praktek perusahaan ekspor impor dll.

  3. August 4, 2009 at 3:59 pm #

    saya setuju dengan deka, banyak praktik yang mengampang kan segala cara, tidak ikut prosedure yg berlaku. semoga ada perbaikan, cek dan recek dari instansi terkait akan praktik ini.

  4. Anonymous
    March 23, 2010 at 6:59 pm #

    bagaimana cara membuat loi (letter of intent) dan bagaimana cara aman bertransaksi batu bara atau cangkang sawit berbeda pulau?

  5. andri
    February 19, 2011 at 5:39 pm #

    Tidak ada sistem pembayaran yang aman walaupun di model apa saja. Tergantung niat orang-orang yang berbisnisnya, kalo memang berniat buruk pasti ada celah saja. Untuk LC, meskipun consignee atas nama bank. Jika orang yg mengimport tadi tidak cocok dengan mutu/qualitas barangnya kemudian menolak tidak mau membayar. Bank juga bingung, akhirnya juga tidak mau melunasi sisa pelunasan (jika awalnya ada uang muka. Lha buat apa bank barang yg dia sendiri tidak tahu persis mau diapakan dan untuk apa kelanjutannya. Alhasil shipper yg merugi barang tidak kebayar, tapi barang sudah terlanjur berada di negara pengimpor. Akhirnya barang dikontainer tertahan dibea cukai sampe menunggu disita dan dilelang. Daripada begitu bisa saja orang pengimpornya tadi main mata dengan bank untuk mengeluarkan kontainer tanpa membayar LC dengan alasan tidak sesuai perjanjian kualitas barang. Bagaimana tanggapan rekan-rekan dengan ini?

  6. susanto
    June 21, 2011 at 8:57 pm #

    saya baru belajr tntng impor ,,maukah tman2 mencritakan pada saya prosedur lengkap tentang pengeluaran barang imper dari pelabuhan hingga smpai pda pemiliknya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.